PNEUMATIKOS: Jurnal Teologi Kependetaan
https://e-journal.stapin.ac.id/index.php/pneumatikos
<p><strong>PNEUMATIKOS: Jurnal Teologi/ Kependetaan</strong> merupakan wadah untuk memublikasikan hasil penelitian teologi, baik penelitian literatur maupun lapangan, yang dilakukan oleh para dosen, peneliti di seluruh Indonesia, yang di terbitkan oleh Sekolah Tinggi Alkitab Penyebaran Injil (STAPIN) Majalengka, dengan nomor ISSN: 2685-8002 (Online), 2252-4088 (Print), serta nomor DOI: 10.56438, dan terbit dua kali dalam setahun (Januari-Juli).</p> <p><strong>Focus dari Jurnal ini ialah:</strong><br>Biblika (Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru)<br>Dogmatika Kristen<br>Historika Gereja<br>Pentakostalisme<br>Teologi Praktika</p>en-US[email protected] (Robert Purba)Sat, 31 Jan 2026 00:00:00 +0000OJS 3.1.2.4http://blogs.law.harvard.edu/tech/rss60Konsistensi dalam pelayanan belajar dari keteladanan rasul Paulus menurut 2 Korintus 6:1-10
https://e-journal.stapin.ac.id/index.php/pneumatikos/article/view/155
<p>Penelitian ini mengkaji makna dan relevansi konsistensi dalam pelayanan Kristen berdasarkan keteladanan Rasul Paulus dalam 2 Korintus 6:1-10. Dengan metode kualitatif deskriptif dan pendekatan eksegetis-hermeneutik, hasil penelitian menunjukkan bahwa konsistensi Paulus termanifestasi melalui ketekunan paradoksal di tengah penderitaan, yang didasarkan pada kesetiaan pada kasih karunia Allah. Faktor internal dan eksternal yang memengaruhi konsistensi pelayanan juga dianalisis. Kajian ini menyimpulkan bahwa teladan Paulus memberikan paradigma pelayanan yang relevan untuk memperkuat ketahanan dan integritas pelayan Tuhan masa kini.</p>Aprianus Simanungkalit
Copyright (c)
https://e-journal.stapin.ac.id/index.php/pneumatikos/article/view/155Sat, 31 Jan 2026 00:00:00 +0000Militansi pelayan Kristus: Dasar pembentukan pemimpin dan Gereja yang tangguh di era digital
https://e-journal.stapin.ac.id/index.php/pneumatikos/article/view/156
<p>Penelitian ini menganalisis peran militansi pelayan Kristus—yang dimaknai sebagai keteguhan iman, disiplin rohani, kesetiaan pelayanan, dan keberanian moral—dalam membentuk kepemimpinan dan gereja yang tangguh di era digital. Dengan pendekatan kualitatif deskriptif melalui kajian literatur dan refleksi kontekstual atas realitas gereja Indonesia, penelitian mengidentifikasi tantangan utama seperti banjir informasi, budaya populer yang sekuler, serta kebutuhan pemimpin yang cakap digital dan kokoh spiritual. Hasil penelitian menunjukkan militansi relevan sebagai solusi atas krisis kepemimpinan yang ditandai integritas lemah, pragmatisme pelayanan, dan disiplin rohani yang rendah. Gereja yang tangguh di era digital berhasil mengintegrasikan militansi iman dengan inovasi digital, menjadikan teknologi bukan sekadar alat komunikasi, melainkan ruang spiritual bagi persekutuan dan misi. Simpulan penelitian menegaskan bahwa pembentukan pemimpin dan gereja di Indonesia perlu mengintegrasikan disiplin spiritual, literasi digital, dan kepemimpinan transformatif. Kontribusi penelitian ini diharapkan dapat memperkaya pengembangan teologi praktis dalam konteks Indonesia serta wacana akademik global tentang kepemimpinan Kristen di era digital.</p>Markus Kusni
Copyright (c)
https://e-journal.stapin.ac.id/index.php/pneumatikos/article/view/156Sat, 31 Jan 2026 07:27:04 +0000Konseling pastoral dalam membangun karakter kejujuran: Psikospiritualitas dalam bingkai iman Kristen
https://e-journal.stapin.ac.id/index.php/pneumatikos/article/view/152
<p>Penelitian ini membahas kejujuran sejati sebagai salah satu nilai moral dan spiritual yang fundamental dalam kehidupan manusia, dengan fokus pada relasi dengan Tuhan. Masalah utama yang diangkat adalah tingginya tingkat ketidakjujuran dalam kehidupan sosial dan bagaimana kejujuran yang autentik dapat diwujudkan melalui pengalaman iman yang mendalam. Urgensi penelitian ini terletak pada pemahaman kejujuran tidak hanya sebagai norma etis, tetapi sebagai hasil dari hubungan spiritual yang otentik dengan Allah, yang selama ini kurang mendapat perhatian. Kebaruan penelitian ini terletak pada integrasi perspektif teologis, psikologis, dan konseling pastoral untuk menggambarkan kejujuran sebagai panggilan holistik yang menghubungkan aspek pribadi, relasional, dan komunitas dalam kehidupan iman. Metode penelitian yang digunakan adalah studi literatur dengan pendekatan kualitatif, yang mencakup sumber-sumber Alkitab, teori perkembangan moral, dan praktik konseling pastoral. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kejujuran sejati mencerminkan karakter Allah yang terwujud melalui transformasi Roh Kudus dalam kehidupan orang percaya. Kejujuran ini bukan hanya kewajiban moral, tetapi juga ekspresi iman yang mendalam, yang memungkinkan integritas hidup dan pemulihan dalam konseling pastoral serta menjadi kesaksian profetis dalam gereja dan masyarakat.</p>Yefta Yan Mangoli, Lie Ja Hwe
Copyright (c)
https://e-journal.stapin.ac.id/index.php/pneumatikos/article/view/152Sat, 31 Jan 2026 07:29:24 +0000Peran Orang Tua Dalam Pembentukan Karakter Disiplin, Bertanggung Jawab, Dan Jujur Pada Generasi Alpa Berdasarkan 2 Timotius 3:14-16
https://e-journal.stapin.ac.id/index.php/pneumatikos/article/view/151
<p>Orang tua berperan sentral dalam penanaman nilai dan karakter disiplin, tanggung jawab, dan kejujuran pada generasi alfa berdasarkan nilai-nilai Alkitabiah dalam 2 Timotius 3:14–16. Generasi Alfa, yaitu anak-anak kelahiran setelah 2010, hidup dalam konteks era digital yang berkembang pesat sehingga menghadirkan tantangan tersendiri dalam pendidikan karakter di dalam keluarga Kristen. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi cara orang tua menerapkan nilai-nilai Alkitabiah tersebut, menganalisis efektivitasnya dalam membentuk karakter anak, serta merancang model pendidikan karakter berbasis Alkitab yang relevan dengan karakteristik generasi Alfa. Pendekatan kajian yang diterapkan adalah mengadopsi metode kualitatif deskriptif dengan pengumpulan data melalui wawancara mendalam terhadap sepuluh keluarga Kristen yang terlibat aktif dalam pelayanan Sekolah Minggu di Gereja PIBI Jemaat Filadelfia Banan Laek. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengajaran Alkitab sejak dini, keteladanan hidup orang tua, serta penerapan pendidikan karakter yang konsisten melalui disiplin dengan kasih, pembiasaan tanggung jawab melalui tugas harian, dan kejujuran melalui teladan nyata terbukti efektif dalam membentuk karakter anak.</p>Asta Becina Bayfeto, Herminayu, Verry Willyam
Copyright (c)
https://e-journal.stapin.ac.id/index.php/pneumatikos/article/view/151Sat, 31 Jan 2026 07:29:57 +0000Analisis eksegetis 1 Kor. 13:4 mengenai makna kasih dalam frasa tidak memegahkan diri dan tidak sombong
https://e-journal.stapin.ac.id/index.php/pneumatikos/article/view/149
<p><em>This study presents an exegetical analysis of the phrases “does not boast” (περπερεύεται) and “is not arrogant” (φυσιόω) in 1 Corinthians 13:4. Through linguistic and contextual analysis, it distinguishes two dimensions of pride: perpereuetai denotes external, boastful behavior seeking public recognition, while physioō refers to an internal attitude of superiority. The findings reveal Paul’s intentional critique of self-centered spirituality in the honor-driven Corinthian community. Theologically, love (ἀγάπη) emerges as a transformative principle grounded in Christ’s humility. This study offers relevant insights for contemporary churches navigating digital-age tendencies toward self-promotion and spiritual narcissism.</em></p>Kariani Giawa, Aji Suseno
Copyright (c)
https://e-journal.stapin.ac.id/index.php/pneumatikos/article/view/149Sat, 31 Jan 2026 07:30:50 +0000Teologi Etika tentang kerukunan dan moderasi beragama dalam konteks Indonesia
https://e-journal.stapin.ac.id/index.php/pneumatikos/article/view/154
<p>Penelitian ini merekonstruksi teologi etika kerukunan dan moderasi beragama di Indonesia sebagai refleksi normatif-kritis, bukan sekadar instrumen kebijakan publik. Menggunakan metode kualitatif studi kepustakaan, studi ini mengintegrasikan teologi lintas agama dengan Teologi Pancasila dan Trilogi Kerukunan sebagai basis normatif moderasi beragama. Temuan penelitian menunjukkan bahwa nilai universal seperti martabat manusia, keadilan, dan kasih merupakan fondasi etis bagi kerukunan berkelanjutan. Teologi Pancasila diposisikan sebagai teologi publik inklusif yang menjembatani iman dan kehidupan berbangsa. Penelitian menyimpulkan bahwa moderasi beragama harus dipahami sebagai praksis teologis transformatif yang melampaui harmoni formal menuju pembelaan keadilan sosial. Studi ini berkontribusi pada pengembangan etika teologis kontekstual untuk memperkuat kerukunan di tengah tantangan intoleransi.</p>Sahat Lambok Sihombing, Otieli Harefa
Copyright (c)
https://e-journal.stapin.ac.id/index.php/pneumatikos/article/view/154Sat, 31 Jan 2026 00:00:00 +0000